Pernyataan:
Sehat Indonesia berusaha menyaring dan hanya menyajikan informasi yang bermutu, namun setiap pandangan atau pendapat yang disajikan dalam portal ini adalah tanggung jawab masing-masing penulis.

Informasi di portal ini tidak bertujuan untuk menjadi pengganti diagnosis medis komprehensif. Semua konten, termasuk teks, grafik, gambar dan informasi, yang terdapat pada atau tersedia melalui portal sehat indonesia adalah sebagai informasi umum dan analisa pembanding. Semua informasi dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Sehat indonesia tidak bertanggung jawab atas isi saran/diagnosa/terapi/kursus/jasa maupun informasi lainnya yang diperoleh dari praktisi kesehatan, produk maupun situs afiliasi (link) melalui portal ini.

PIKUN atau DEMENSIA


Pernahkah kita mengalami hal seperti lupa nama teman saat reuni dan bertemu dengan teman lama? Menuju ke kulkas dan setelah sampai didepan kulkas mendadak lupa dan bingung mau melakukan apa?

Apakah hal ini normal ? atau jangan-jangan sudah mengalami PIKUN?? 

Apakah yang dimaksud dengan pikun atau DEMENSIA? 

Demensia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan penurunan fungsi kognitif (otak). Hal tersebut dapat mempengaruhi cara berpikir, perilaku dan kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan sehari-hari. 

Apakah tanda khas Demensia?

Gejala awal demensia hampir tidak terlihat, tidak disadari,  tidak jelas dan mungkin dianggap sebagai proses penuaan normal. Gejala yang sering tampak adalah : 

- Sering lupa terutama akan hal-hal yang baru  dan  semakin lama semakin berat 

- Merasa bingung 

- Perubahan kepribadian 

- Tidak peduli dan menyendiri 

- Kehilangan kemampuan melakukan pekerjaan sehari-hari

Siapa saja yang bisa terkena Demensia?

Faktor-faktor kesehatan dan cara hidup tertentu tampaknya memainkan peran dalam risiko seseorang terkena  demensia. Orang yang memiliki faktor risiko diabetes, penyakit jantung yang tidak diobati, termasuk tekanan darah tinggi memiliki risiko yang lebih besar, merokok  dan  orang-orang yang kurang aktif secara fisik dan mental

Demensia dapat terjadi pada siapa saja tidak terkecuali, namun risikonya akan meningkat dengan bertambahnya usia. Demensia bukan bagian normal dari proses penuaan, tetapi hal ini bisa disebabkan oleh penyakit di otak. 

Sebenarnya demensia ini sangat jarang didapatkan pada usia dibawah 65 tahun namun saat ini telah dilaporkan bahwa pada usia dibawah 65 tahun sudah ada yang didiagnosis dengan demensia. 

Apa yang menyebabkan seseorang terkena demensia? 

Hal ini disebabkan oleh karena gaya hidup masyarakat modern saat ini yang malas bergerak, hidup yang serba praktis dengan mengkonsumsi  makanan cepat saji, dan stres kehidupan yang semakin meningkat. Orang dengan anggota keluarga yang demensia akan memiliki risiko  lebih besar untuk terkena demensia. 

Ada berapa macamkah Demensia?

Ada berbagai macam penyakit yang menyebabkan demensia. Bentuk demensia yang paling sering adalah: 

a. Demensia Alzheimer, jumlahnya kira-kira dua-pertiga dari semua kasus demensia. Penyakit ini menyebabkan penurunan kemampuan kognitif secara perlahan-lahan, biasanya diawali dengan kehilangan daya ingat/memori terutama memori yang baru. Demensia Alzheimer ditandai oleh dua abnormalitas di otak yaitu adanya plak beta  amyloid (amyloid plaques) dan ‘neurofibrillary tangles’ (belitan-belitan neurofibriler). Plak beta amyloid merupakam kumpulan protein yang abnormal di otak. Belitan-belitan itu adalah kumpulan serat yang berbelit-belit yang terdiri dari protein yang disebut tau protein. Plak dan serat yang berbelit-belit itu menghambat komunikasi antara sel-sel saraf dan menyebabkan sel-sel itu mati. 

b. Demensia Vaskuler (Vascular dementia) ditandai dengan kerusakan daya ingat/ kognitif  yang disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah di otak. Hal ini disebabkan oleh adanya suatu serangan  stroke atau oleh beberapa serangan stroke kecil (mini-strokes) yang terjadi selama beberapa waktu. Demensia vaskuler dapat ditegakkan jika ada bukti adanya penyakit pembuluh darah di otak dan terjadi penurunan fungsi kognitif yang mengganggu kemandirian seseorang. Gejala dapat muncul tiba-tiba setelah suatu serangan otak, atau mulai perlahan-lahan selama perjalanan peyakit. Gejalanya berbeda beda tergantung lokasi dan ukuran kerusakan otak tersebut. Demensia vaskuler mungkin mirip dengan demensia Alzheimer, dan campuran antara demensia Alzheimer dan demensia vaskuler seringkali ditemukan.

c. Demensia Lewy body ditandai oleh adanya badan Lewy di dalam otak. Badan Lewy adalah gumpalan protein alpha-synuclein yang abnormal berkembang di dalam sel-sel saraf. Abnormalitas ini terdapat di tempat tertentu pada otak, yang menyebabkan perubahan dalam bergerak, berpikir dan berperilaku. Orang dengan demensia Lewy body dapat merasakan perubahan yang cepat pada perhatian dan pemikiran. Mereka dapatberperilaku seperti normal dan kemudian menjadi sangat kebingungan dalam waktu yang pendek saja. Halusinasi visual (melihat hal-hal yang tidak ada) juga merupakan gejala yang umum. 

d. Demensia Frontotemporal  adalah demensia yang disebabkan kerusakan perlahan-lahan pada bagian depan (frontal) dan/atau lobus temporal otak. Gejala sering muncul ketika orang berusia 50-an, 60-an dan kadang-kadang lebih awal. Ada dua gejala utama demensia frontotemporal yaitu lobus frontal (adanya perubahan perilaku dan perubahan kepribadian) dan temporal (adanya gangguan pada kemampuan berbahasa) namun hal itu sering bertumpang tindih. Kerusakan pada lobus lobus frontal yang bertanggung jawab terhadap kemampuan menilai dan tingkah laku, orang dengan  demensia frontotemporal sering mengalami gangguan perilaku sehingga mengganggu masyarakat sekitarnya. Perubahan perilaku yang dialami antara lain kurang sopan, tidak bertanggung-jawab, tidak dapat mengendalikan keinginan/menahan, agresif, sulit mengendalikan diri, dan seringkali ceroboh. 

 

Apakah obat-obatan dapat menolong?

Sampai saat ini belum ditemukan  obat untuk mengobati  demensia tetapi ada beberapa jenis obat yang dapat mengurangi beberapa gejalanya. Dukungan keluarga, bantuan keluarga, teman dan caregiver sangat penting bagi orang dengan demensia. Hal ini dapat memberikan dampak positif dalam merawat orang dengan demensia.

Apa yang harus dilakukan untuk mencegah demensia?

Perhatikan pola hidup kita seperti tetap aktif setiap waktu (berkebun, mengendarai mobil), lakukan kegiatan fisik seperti olah raga yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan (berjalan kaki, berenang, menari poco-poco), lakukan kegiatan mental yang bermanfaat (bermain catur, mengisi TTS/Sudoku, membaca Koran), tetap gembira, atur pola makan dengan baik, minum obat-obatan yang memang diperlukan secukupnya. (dr Ria Maria Theresa SpKJ)